Cerita Deni


Cerita Deni
Oleh : Izzah Annisa

Aku menunggu giliranku dengan jantung berdebar. Minggu yang lalu, Bu Irma, guru bahasa Indonesia di kelasku, memberi tugas menulis tentang pekerjaan bapak dan menceritakannya di depan kelas. Aku sudah menyelesaikan tugasku. Tapi jujur, aku malu menceritakan pekerjaan bapakku.

“Deni!” suara bu Irma mengejutkan lamunanku. Deni, teman sebangkuku maju ke depan kelas. Ia terlihat percaya diri. Aku menarik napas lega. Sukurlah, yang dipanggil bukan aku.
Meski duduk sebangku, aku tidak tahu apa pekerjaan bapak Deni. Deni tidak pernah menceritakan tentang bapaknya padaku.

Seisi kelas tak ada yang bersuara. Semua bersiap mendengarkan Deni bercerita.
“Bapakku adalah seorang pemilik pertunjukan sirkus,” Deni memulai ceritanya.
“Ada banyak pemain di sirkus milik bapakku. Setiap pemain punya keahlian masing-masing.
Ada yang pandai berjalan di atas seutas tali, bersepeda di atas sebuah roda, atau menyemburkan api dari mulutnya.” 

“Bapakku sering berkeliling ke kota-kota di seluruh Indonesia. Tak sedikit acara-acara penting dihadirinya. Ia membuat semua orang terpukau melihat atraksi sirkusnya.”

Deni berhenti sejenak. Menarik napas, sambil mengedarkan pandangan ke seisi kelas. Binar bangga terpancar di wajahnya. Dan harus kuakui, diam-diam aku mulai merasa iri. Andai bapakku sehebat bapak Deni.

“Bapakku, adalah seorang pemilik sirkus yang hebat!” Deni mengakhiri ceritanya. Tepuk tangan gemuruh terdengar. Bu Irma dan teman-teman sekelasku memandang Deni dengan tatapan kekaguman.

“Cerita yang sangat bagus, Deni. Bapakmu hebat!” puji bu Irma. Deni membusungkan dada.
Bu Irma lalu mempersilakan Deni duduk. Jantungku kembali berdegup. Keringat dingin membasahi tengkuk. Aku takut setelah ini giliranku ditunjuk.

Kriiiiing…. Kriiing…. Kriiiing….

Bel pulang berbunyi.

“Baik, Anak-anak, bagi yang belum membacakan tugasnya, kita lanjutkan minggu depan,
ya!” kata Bu Irma mengingatkan kami.

Yes!

Aku bersorak dalam hati. Aku selamat kali ini. Setidaknya, masih ada waktu seminggu untuk
mempersiapkan diri.

“Den, ternyata bapakmu hebat, ya!” ujarku saat meninggalkan kelas bersama Deni.

Deni tersenyum.

“Pernah sampai ke luar negeri tidak, Den?” tanyaku penasaran. Aku pernah melihat acara sirkus di TV. Jangan-jangan, itu sirkus milik bapaknya Deni, pikirku.

“Oh, tentu! Terkadang bapakku mendapat undangan untuk melakukan pertunjukan di luar negeri.” Ujar Deni.

Aku mengangguk-ngangguk. Ah, alangkah enaknya punya bapak seperti Deni.
“Tapi Den, berarti kau jarang bertemu bapakmu, dong?”
Deni mengangkat bahu,
“Ya, begitulah,” jawabnya.

Aku termenung dan berpikir. Alangkah sibuknya bapak Deni, hingga jarang bertemu anaknya sendiri. Aku jadi teringat pada bapakku. Meski sibuk, bapak selalu menyempatkan diri bersamaku. Bahkan bapak sering menawariku diantar dan dijemput, meski selalu kutolak karena aku merasa malu. Aku malu pada pekerjaan bapakku.

“Hei! Ada pertunjukan topeng monyet, tuh. Ke sana, yuk!” teriak Dirman, temanku.

“Hah! Dimana?” Aku memanjangkan leherku. Mencoba melihat lebih jelas ke arah yang ditunjuk Dirman.

“Di luar pagar sekolah!” teriak Dirman, yang sudah berlari duluan.

Di luar pagar sekolah, kulihat murid-murid di sekolahku telah berkerumun. Bergegas aku mengajak Deni menuju kerumunan itu. Awalnya Deni menolak ajakanku. Deni bilang, ayahnya baru datang dari luar kota siang itu. Deni sudah rindu. Dan ia tak ingin membuat bapaknya menunggu. 

“Ayolah, sebentar saja!” ujarku memaksa. 

Aku dan Deni menyeruak di antara kerumunan. Di tengah lingkaran, tampak seorang bapak bertopi lebar tengah bersiap melakukan pertunjukan. Ia memangku sebuah gendang. Di depannya, seekor monyet berpakaian ala Aladin siap beraksi dengan payung kecilnya.

Pertunjukan dimulai. Monyet kecil itu berjalan di atas seutas tali sambil membawa sebuah tongkat. Penonton bertepuk tangan dan bersorak. Monyet itu benar-benar hebat!

Aku menepuk bahu Deni sambil melonjak kegirangan.
”Topeng monyetnya keren ya, Den!”

Heran, Deni hanya menunduk dan diam.

Tak terasa pertunjukan pun selesai. Bapak penabuh gendang membuka topi, kemudian mengedarkannya kepada para penonton. Si monyet duduk di bahunya.

Bapak itu hampir sampai di tempatku dan Deni berdiri. Deni menutup wajah dengan telapak tangan. Kupikir dia kepanasan karena cahaya matahari memang begitu menyengat.

Aku memasukkan uang seratus rupiah ke dalam topi si bapak. Bapak itu tersenyum dan mengucapkan terimakasih padaku. Tapi saat melihat Deni, bapak itu tertegun.

“Deni?” katanya.

Deni salah tingkah. Perlahan, ia menurunkan telapak tangannya.

“Oalah… Kamu di sini, tho. Maaf ya, Bapak nggak ngasih tau kamu kalo Bapak mau jemput. Rencananya, bapak mau sekalian bayar SPP mu. Iseng-iseng bapak buka pertunjukan, hehe…”

Aku menatap Deni.

“Jadi ini, Den, bapakmu yang kamu ceritakan itu?” Deni tidak menjawab. Ia hanya tertunduk dan wajahnya memerah.

“Wah, kamu sering cerita tentang Bapak ke teman-temanmu, Den?”

Bapak itu memegang pundak Deni. Tanpa disangka, tiba-tiba Deni menangis dan berlari. Bapak Deni terkejut melihat sikap Deni. Setelah mengambil gendangnya, ia pun berlari mengejar Deni.

Mataku memanas. Tak peduli lagi aku pada cerita Deni. Aku ingin segera pulang menemui bapak. Maafkan aku, Pak. Sempat malu pada pekerjaan bapak yang hanya seorang penarik becak.

0 komentar: