Kambing Kurban Lutfan

“Kemarin papaku membeli seekor sapi besar. Sapi itu akan dijadikan kurban di hari Raya Idul Adha nanti,” ujar Zaidan, saat istirahat di sekolah. Lutfan mendengarkan. Diam diam ia iri mendengar cerita Zaidan. 

Andai Emak bisa berkurban sapi seperti Papanya Zaidan, bisik hati Lutfan.

“Kalo keluargaku kurban kambing. Kambingnya tiga. Sesuai dengan jumlah keluarga kami, yaitu Abi, Ummi, dan aku,” Bagas menimpali. 

Lagi - lagi Lutfan hanya bisa mendengarkan.

“Apa kamu juga mau berkurban, Lutfan?” Tanya Alwa.

Berkurban?
Tentu saja Lutfan mau.
Tapi…

Untuk makan saja susah, bagaimana mau berkurban? Batin Lutfan. Apalagi sejak Bapak meninggal. Lutfan bahkan terpaksa ikut bekerja agar bisa meringankan beban Emak. Emaknya yang hanya tukang cuci pakaian tetangga, tak bisa lagi menerima cucian banyak - banyak. Encok Emak sering kumat saat malam. Lutfan kasihan pada Emak.

Pulang sekolah, Lutfan bergegas menuju rumah Abah Nuh. Lutfan akan mengembalakan kambing - kambing Abah Nuh, karena memang itulah pekerjaannya.

“Sudah pulang, Lutfan? Makan siang dulu, baru beri makan kambing,” kata Abah Nuh.

Abah Nuh memang sangat baik. Oleh beliau, Lutfan diperlakukan seperti anak sendiri.  Bagi Lutfan, bekerja pada beliau sangat menyenangkan. Pendapatannya  pun lumayan. Setidaknya, setiap hari sekilo beras bisa Lutfan bawa pulang. Bahkan, tak jarang Abah Nuh memberi bonus untuk Lutfan. Entah berupa buah - buahan, atau pun sayuran. Begitu pula soal perlengkapan sekolah. Abah Nuh selalu menyertakan Lutfan setiap kali membeli kebutuhan sekolah anaknya.

“Hadiah untuk anak rajin,” begitu kata Abah Nuh, saat Lutfan menyatakan terimakasih pada beliau.

Rupanya, kali ini, Lutfan tak perlu mengembalakan kambing - kambing ke padang rumput. Sebab Abah Nuh bilang,  kambing - kambing itu akan di jual untuk kurban di hari raya Idul adha. Yang harus dilakukan Lutfan hanyalah membawakan kambing - kambing itu rumput, dan memastikan mereka mendapat cukup makan dan minum hingga pembelinya datang.

“Abah… Kalau boleh tahu, berapa harga kambing paling murah yang Abah jual?”
“Sejuta lima ratus ribu!” Jawab Abah Nuh.

Lutfan menelan ludah. Mahal sekali, pikirnya.

Pembeli kambing Abah Nuh datang silih berganti. Tak hanya memberi makan dan minum kambing - kambing, Lutfan juga tak canggung membantu Abah Nuh untuk meyakinkan calon pembeli.

“Kambingnya sehat, Pak. Saya sendiri yang memberi mereka makan setiap hari,” kata Lutfan. Abah Nuh terlihat senang. Apalagi ketika si pembeli akhirnya memutuskan untuk membeli.

Sehari menjelang Idul Adha, Abah Nuh memanggil Lutfan ke rumahnya.

“Nah, Lutfan, ini upahmu selama membantu memberi makan dan menjual kambing – kambing Abah,” Abah Nuh menyodorkan sebuah amplop pada Lutfan.

Lutfan membuka amplop. Matanya terbelalak begitu mengetahui jumlahnya.

“Hah! Banyak sekali, Abah?” Ia memandang tak berkedip pada lima lembar uang seratus ribu di dalam amplop yang diterimanya.

Abah Nuh tertawa.

“Harusnya Abah bisa memberi lebih banyak untuk anak baik dan rajin seperti Lutfan,” ujar Abah Nuh. Lutfan tersipu.

“Tapi…” Lutfan tampak termenung.
“Ada apa, Lutfan?” Abah Nuh mendekatkan wajahnya pada Lutfan.

“Uang segitu belum cukup untuk membeli kambing kurban paling murah ya, Abah?”

Abah Nuh terdiam.

Lutfan menunduk. Ia takut Abah Nuh tersinggung. Apalagi, upah yang diberikan Abah Nuh sudah sangat banyak jumlahnya.

“Siapa bilang?” Kata Abah Nuh.

Lutfan terlengak.

“Maksud Abah?”
Abah Nuh tersenyum.

“Lutfan, semalam Abah dan istri Abah sudah sepakat. Kami ingin memberikan sesuatu untuk Lutfan dan Emak. Karena kelihatannya Lutfan ingin sekali berkurban, Abah pikir sekarang lah waktu yang tepat untuk memberikannya.”

Lutfan menunggu. Jantungnya berdebar debar.

“Nah. Lutfan lihat kambing - kambing itu?” Abah Nuh menunjuk sisa kambingnya yang belum terjual.

Lutfan mengangguk.

“Lutfan boleh memilih seekor kambing yang paling Lutfan sukai. Kambing itu boleh Lutfan bawa pulang,” kata Abah Nuh, sambil menepuk bahu Lutfan.

Lutfan terbelalak. Ia tidak menyangka bahwa Abah Nuh akan memberikan seekor kambing untuknya. Ini seperti mimpi di siang bolong!

“Bagaiaman? Lutfan mau menerimanya?”

Lutfan mengangguk cepat cepat.

“Mau! Mau sekali, Abah!” Seketika Lutfan memeluk Abah Nuh. Ia berurai air mata. Bukan karena sedih, melainkan bahagia. Mendadak suara takbir seolah memenuhi gendang telinganya. Terbayang olehnya, senyuman emak mengembang saat ia pulang membawa kambing kurban.

“Terimakasih banyak, Abah. Terimakasih, ya Allah. Alhamdulillah…” Bisik Lutfan, di antara tangisnya.

0 komentar: